Minggu, 05 Mei 2013

laporan praktikum hidrolisis garam


PEMERINTAH KABUPATEN LAHAT
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN LAHAT
SMA NEGERI 4 LAHAT
Akreditasi A
Jalan TanjungPayang Kec. Lahat Telp. 0731-326660/32662
WORKSHEET
   
Hari/tanggal                        :  Selasa, 03 Mei 2013
Nama Kelompok                :  1. Ade Rizky Amalia
                                               2. Alfira Mutiara
                                               3. Meza Belindiani Azzahra
Kelas                                  : XI IPA 1
Mata Pelajaran                    : Kimia
I.          Judul                    : Hidrolisis Garam
II.       Tujuan                  :  
1. menjelaskan sifat asam-basa larutan garam
2. menjelaskan dan menentukan jenis garam yang dapat terhidrolisis dalam air   melalui percobaan
3. mengukur dan menghitung pH larutan garam yang terhidrolisis
III.    Landasan Teori    :
Pengertian Hidrolisis
Hidrolisis merupakan istilah yang umum digunakan untuk reaksi zat dengan air (hidrolisis berasal dari kata hydro yang berarti air dan lysis yang berarti penguraian). Menurut konsep ini, komponen garam (kation atau anion) yang berasal dari asam lemah atau basa lemah bereaksi dengan air (terhidrolisis) membentuk ion H3O+ (=H+) atau ion OH-. Hidrolisis kation menghasilkan ion H3O+, sedangkan hidrolisis anion menghasilkan ion OH-.
Sebagaimana kita ketahui bahwa larutan asam direaksikan dengan larutan basa akan membentuk senyawa garam. Jika kita melarutkan suatu garam ke dalam air, maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu:
·         Ion-ion yang berasal dari asam lemah (misalnya CH3COO–, CN–, dan S2–) atau ion-ion yang berasal dari basa lemah (misalnya NH4+, Fe2+, dan Al3+) akan bereaksi dengan air. Reaksi suatu ion dengan air inilah yang disebut hidrolisis. Berlangsungnya hidrolisis disebabkan adanya kecenderungan ion-ion tersebut untuk membentuk asam atau basa asalnya.
Contoh:
CH3COO + H2O           CH3COOH + OH

NH4+ + H2O         NH4OH + H+

·         Ion-ion yang berasal dari asam kuat (misalnya Cl–, NO3–, dan SO42–) atau ion-ion yang berasal dari basa kuat (misalnya Na+, K+, dan Ca2+) tidak bereaksi dengan air atau tidak terjadi hidrolisis. Hal ini dikarenakan ion-ion tersebut tidak mempunyai kecenderungan untuk membentuk asam atau basa asalnya.
Na+ + H2O              tidak terjadi reaksi
SO42- + H2O    tidak terjadi reaksi


Hidrolisis hanya dapat terjadi pada pelarutan senyawa garam yang terbentuk dari ion-ion asam lemah dan ion-ion basa lemah. Jadi, garam yang bersifat netral (dari asam kuat dan basa kuat) tidak terjadi hidrolisis.
Ada dua macam hidrolisis, yaitu:
§  Hidrolisis parsial/sebagian (jika garamnya berasal dari asam lemah dan basa kuat atau sebaliknya & pada hidrolisis sebagian hanya salah satu ion saja yang mengalami reaksi hidrolisis, yang lainnya tidak)
§  Hidrolisis total (jika garamnya berasal dari asam lemah dan basa lemah).



Konsep Hidrolisis
Pencampuran larutan asam dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Namun demikian, garam dapat bersifat asam, basa maupun netral. Menurut konsep ini, komponen garam (kation atau anion) yang   berasal dari asam lemah atau basa lemah bereaksi dengan air (terhidrolisis) membentuk ion H3O+ (= H+) atau ion OH–. Jika hidrolisis menghasilkan ion H3O+ maka larutan bersifat asam, tetapi jika hidrolisis menghasilkan ion OH– maka larutan bersifat basa. Hidrolisis garam sebenarnya adalah reaksi asam basa Bronsted Lowry, yaitu semakin kuat suatu asam, semakin lemah basa konjugasinya. Komponen garam yang berasal  dari asam atau basa lemah merupakan basa atau asam konjugasi yang relatif kuat dapat bereaksi  dengan air, sedangkan komponen garam yang berasal dari asam atau basa kuat tidak bereaksi dengan air (tidak terhidrolisis).

1. Garam dari Asam Kuat dengan Basa Kuat
Asam kuat dan basa kuat bereaksi membentuk garam dan air. Kation dan anion garam berasal dari elektrolit kuat yang tidak terhidrolisis, sehingga larutan ini bersifat netral, pH larutan ini sama dengan 7.
Contoh
Larutan KCl berasal dari basa kuat KOH terionisasi sempurna membentuk kation dan anionnya. KOH terionisasi menjadi H + dan Cl - . Masing-masing ion tidak bereaksi dengan air, reaksinya dapat ditulis sebagai berikut.
KCl (aq) → K + (aq) + Cl - (aq)
K + (aq) + H 2 O (l) tidak ada reaksi
Cl - (aq) + H 2 O (l) tidak ada reaksi

2. Garam dari Asam Kuat dengan Basa Lemah
Garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian (parsial) dalam air. Garam ini mengandung kation asam yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat asam, pH <7.
Contoh
Amonium klorida (NH 4 Cl) merupakan garam yang terbentuk dari asam kuat, HCl dalam basa lemah NH 3 . HCl akan terionisasi sempurna menjadi H + dan Cl - sedangkan NH 3 dalam larutannya akan terionisasi sebagian membentuk NH 4 + dan OH - . Anion Cl - berasal dari asam kuat tidak dapat terhidrolisis, sedangkan kation NH 4 + berasal dari basa lemah dapat terhidrolisis.
NH 4 Cl (aq) → NH 4 + (aq) + Cl - (aq)
Cl - (aq) + H 2 O (l) tidak ada reaksi
NH 4 + (aq) + H 2 O (l)      NH 3 (aq) + H 3 O + (aq)
Reaksi hidrolisis dari amonium (NH 4 + ) merupakan reaksi kesetimbangan. Reaksi ini menghasilkan ion oksonium (H 3 O + ) yang bersifat asam (pH<7). Secara umum reaksi ditulis:
BH + + H 2 O      B + H 3 O +

3. Garam dari Asam Lemah dengan Basa Kuat
Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat mengalami hidrolisis parsial dalam air. Garam ini mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat basa (pH > 7).
Contoh
Natrium asetat (CH 3 COONa) terbentuk dari asam lemah CH 3 COOH dan basa kuat NaOH. CH 3 COOH akan terionisasi sebagian membentuk CH 3 COO - dan Na + . Anion CH 3 COO - berasal dari asam lemah yang dapat terhidrolisis, sedangkan kation Na + berasal dari basa kuat yang tidak dapat terhidrolisis.
CH 3 COONa (aq) → CH 3 COO - (aq) + Na + (aq)
Na + (aq) + H 2 O (l) tidak terjadi reaksi
CH 3 COO - (aq) + H 2 O (l)      CH 3 COOH (aq) + OH - (aq)
Reaksi hidrolisis asetat (CH 3 COO ) merupakan reaksi kesetimbangannya. Reaksi ini menghasilkan ion OH yang bersifat basa (pH > 7). Secara umum reaksinya ditulis:
A - + H 2 O      HA + OH

4. Garam dari Asam Lemah dengan Basa Lemah
Asam lemah dengan basa lemah dapat membentuk garam yang terhidrolisis total(sempurna) dalam air. Baik kation maupun anion dapat terhidrolisis dalam air. Larutan garam ini dapat bersifat asam, basa, maupun netral. Hal ini bergantung dari perbandingan kekuatan kation terhadap anion dalam reaksi dengan air.
Contoh
Suatu asam lemah HCN dicampur dengan basa lemah, NH 3 akan terbentuk garam  NH 4 CN. HCN terionisasi sebagian dalam air membentuk H + dan CN - sedangkan NH 3 dalam air terionisasi sebagian membentuk NH4+ dan OH-. Anion basa CN - dan kation asam NH 4 + dapat terhidrolisis di dalam air.
NH 4 CN (aq) → NH 4 + (aq) + CN - (aq)
NH 4 + (aq) + H 2 O           NH 3(aq) + H3O+ (aq) 
CN - (aq) + H 2 O (e)         HCN (aq) + OH - (aq)
Sifat larutan bergantung pada kekuatan relatif asam dan basa penyusunnya (Ka dan Kb)
- Jika Ka < Kb (asam lebih lemah dari pada basa) maka anion akan terhidrolisis lebih banyak dan larutan bersifat basa.
- jika Ka > Kb (asam lebih kuat dari pada basa) maka kation akan terhidrolisis lebih banyak dalam larutan bersifat asam.
- Jika Ka = Kb (asam sama lemahnya dengan basa) maka larutan bersifat netral.

Aplikasi Hidrolisis Garam dalam Kehidupan

1. Pelarutan sabun
Garam natrium stearat, C 17H 35COONa (sabun cuci) akan mengalami hidrolisis jika dilarutkan dalam air , menghasilkan asam stearat dan basanya NaOH.
Reaksi: C17H 35COONa + H 2O --> C 17H 35COOH + NaOH
Oleh karena itu, jika garam tersebut digunakan untuk mencuci, airnya harus bersih dan tidak mengandung garam Ca 2+ atau Mg 2+. garam Ca 2+ dan Mg 2+ banyak terdapat dalam air sadah. Jika air yang digunakan mengandung garam garam Ca 2+, terjadi reaksi
2(C 17H 35COOH) + Ca 2+ --> (C 17H 35COO) 2 + H +
Sehingga buih yang dihasilkan sangat sedikit. Akibatnya, cucian tidak bersih karena fungsi buih untuk memperluas permukaan kotoran agar mudah larut dalam air.

 2. Penjernihan air
Penjernihan air minum oleh PAM berdasarkan prinsip hidrolisis, yaitu menggunakan senyawa aluminium fosfat yang mengalami
hidrolisis total. 

3. Sebagai Pupuk
Agar tanaman tumbuh dengan baik, maka pH tanaman harus dijagam pH tanah di daerah pertanian harus disesuaikan dengan pH tanamannya. Oleh karena itu diperlukan pupuk yang dapat menjaga pH tanah agar tidak terlalu asam atau basa. Biasanya para petani menggunakan pelet padat (NH 4 ) 2 SO 4 untuk menurunkan pH tanah. Garam (NH 4 ) 2 SO 4 bersifat asam, ion NH 4 + akan terhidrolisis dalam tanah membentuk NH 3 dan H + yang bersifat asam.

4. Pemutih Pakaian
Kita juga sering memakai bayclin atau sunklin untuk memutihkan pakaian kita. Produk ini mengandung kira-kira 5 % NaOCl yang sangat reaktif sehingga dapat menghancurkan pewarna, sehingga pakaian menjadi putih kembali. Garam ini terbentuk dari asam lemah HOCl dengan basa kuat NaOH. Ion OCl - terhidrolisis menjadi HOCl dan OH-, sehingga garam NaOCl bersifat basa.
IV.   Alat dan bahan            :
Alat
Bahan
Pipet tetes
Larutan NaCl
Plat tetes
Larutan MgSO4

Larutan NH4Cl

Larutan Na2CO3

Larutan NaCH3COO

Larutan NH4CH3COO

Kertas lakmus merah

Kertas lakmus biru

V.       Cara Kerja            :
1.                Menyiapkan alat dan bahan.
2.                Teteskan larutan-larutan NaCl, MgSO4, NH4Cl, Na2CO3, NaCH3COO, dan NH4CH3COO masing-masing ke dalam plat tetes yang sudah dibersihkan (setiap larutan ditempatkan dalam 2 lubang pada plat tetes).
3.                Periksa larutan-larutan NaCl, MgSO4, NH4Cl, Na2CO3, NaCH3COO, dan NH4CH3COO di dalam dua lekukan plat tetes masing-masing dengan lakmus merah dan lakmus biru
4.                Amati perubahan warna kertas lakmus dan catat datanya


VI.   Hasil Pengamatan:
Larutan
Perubahan Warna Indikator
pH
Sifat Larutan
Lakmus merah
Lakmus biru
larutan NaCl
Merah
Ungu
5,5 – 8,0
Asam
Larutan MgSO4
Merah
Biru
=7
Basa
Larutan NH4Cl
Merah
Merah
<5,5
Asam
Larutan Na2CO3
Biru
Biru
>8,0
Basa
Larutan NaCH3COO
Merah
Biru
=7
Netral
Larutan NH4CH3COO
Merah
Merah
<5,5
Asam






VII.Analisis Data/Pertanyaan
1.      Carilah hubungan antara kekuatan asam dan basa pembentuk garam dengan sifat larutan garam. Misalnya dalam bentuk sebagai berikut.

2. Apakah ada kaitan antara jenis asam dan basa pembentuk garam dengan sifat
     larutan garamnya? Jika ada, tariklah kesimpulan.

3.  Tariklah kesimpulan dari percobaan ini.

Jawab :

No
Rumus Kimia Garam
Basa Pembentuk
Asam Pembentuk
Sifat Larutan
1.
Rumus
Jenis
Rumus
Jenis
NH4Cl
NH3
Basa Lemah
HCL
Asam Kuat
Asam
2.
NaCl
NaOH
Basa Kuat
HCL
Asam Kuat
Netral
3.
NaCH3COO
NaOH
Basa Kuat
CH3COOH
Asam Lemah
Basa
4.
NH4CH3COO
NH3
Basa Lemah
CH3COOH
Asam lemah
Asam (ka>kb)
5.
MgSo4
Mg(OH)2
Basa Kuat
H2SO4
Asam Kuat
Netral
6.
Na2CO3
NaOH
Basa kuat
H2CO3
Asam lemah
Basa
 1. 












2.      Ada,  jenis asam dan jenis basa menentukan sifat garam yang terbentuk.

     1. Garam dari Asam Kuat dan Basa Kuat
            Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat bersifat netral karena ion dari asam kuat dan basa kuat tidak dapat terhidrolisis sehingga tidak mempengaruhi ion H+ dan OH-
     2. Garam dari Basa Kuat dan Asam Lemah
Garam yang tersusun dari basa kuat dan asam lemah akan mengalami hidrolisis sebagian (parsial), yaitu hidrolisis anionnya yang berasal dari asam lemah. Hidrolisis anion ini akan menghasilkan ion OH-, sehingga larutan akan bersifat basa (pH>7).
3. Garam dari asam kuat dan basa lemah
Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah akan mengalami hidrolisis parsial, yaitu hidrolisis kationnya yang berasal dari basa lemah. Hidrolisis parsial ini akan menghasilkan ion H3O+, sehingga larutan akan bersifat asam (pH<7).
4. Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah
Baik kation maupun anion dari garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah terhidrolisis dalam air, sehingga disebut hidrolisis total. Sifat larutan bergantung pada kekuatan relatif asam dan basa yang bersangkutan. Jika asam lebih lemah daripada basa (Ka<Kb), maka anion akan terhidrolisis lebih banyak dan larutan akan bersifat basa. Jika basa lebih lemah dari asam (Ka>Kb), maka kation yang terhidrolisis lebih banyak dan larutan akan bersifat asam. Sedangkan jika asam sama lemahnya dengan basa (Ka=Kb), larutan akan bersifat netral.

3. - Apabila garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat maka sifat larutan garamnya netral.
   - Apabila       garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah maka sifat larutan garamnya asam.
  - Apabila garam yang terbentuk berasal dari asam lemah dan basa kuat maka sifat larutan garamnya basa.
- Apabila garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah maka sifat larutan garamnya bisa bersifat netral, asam maupun basa tergantung pada harga ka dan harga kb. 

VIII.       Pembahasan
  
         Apabila larutan asam dan larutan basa dicampurkan maka  akan menghasilkan garam dan air. Garam dapat bersifat asam, basa, atau netral. Sifat garam bergantung pada jenis komponen asam dan basanya.
        Sifat asam basa suatu garam dapat ditentukan dari kekuatan asam dan basa penyusunnya. Garam bersifat basa atau asam disebabkan oleh sebagian garam yang larut bereaksi dengan air.
a)      Pada percobaan yang peneliti lakukan, larutan NaCl bersifat asam. Menurut  teori,  Larutan garam NaCl bersifat netral. Natrium Klorida (NaCl) terdiri dari kation Na+ dan anion Cl-. Baik ion Na+ maupun ion Cl- berasal dari elektrolit kuat sehingga keduanya tidak bereaksi dengan air. 
                                      NaCl (aq) → Na + (aq) + Cl - (aq)

                                     Na + (aq) + H 2 O (l)                (Tidak ada reaksi)

                                     Cl - (aq) + H 2 O (l)                        (Tidak ada reaksi)

NaCl tidak mengubah perbandingan konsentrasi ion H+ dan OH- dalam air, dengan kata lain, larutan NaCl bersifat netral. Kegagalan pada praktikum yang peneliti lakukan disebabkan karena tidak teliti dalam melakukan percobaan.

b)      Larutan garam MgSO4 terdiri dari kation Mg2+ dan anion SO42-.  Mg2+ berasal dari basa kuat Mg(OH)2 dan SO42- berasal dari asam kuat H2SO4.
                                MgSO4(aq)           Mg2+(aq) + SO4 2-(aq)

                                Mg2+(aq) + H2O(l)              (Tidak ada reaksi)

                               SO4 2-(aq) + H2O(l)                   (Tidak ada reaksi)

Menurut konsep hidrolisis garam,  Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat tidak terhidrolisis dan larutan garamnya bersifat netral atau  pH = 7. Jadi, MgSO4 bersifat netral dan memiliki pH 7.

c)      Larutan garam NH4Cl bersifat asam. Amonium klorida (NH4Cl) merupakan garam yang terbentuk dari asam kuat (HCl) dan basa lemah (NH3) . Amonium klorida (NH4Cl) terdiri dari kation NH4+ dan anion Cl-. Ion NH4+ merupakan asam konjugasi dari basa lemah NH3 mengalami hidrolisis sedangkan ion Cl- merupakan basa konjugasi dari asam kuat HCl, tidak terhidrolisis.
                             NH 4 Cl (aq) → NH 4 + (aq) + Cl - (aq)

                             Cl - (aq) + H 2 O (l)                  (Tidak ada reaksi)

                            NH 4 + (aq) + H 2 O (l)               NH 3 (aq) + H 3 O + (aq)

Hidrolisis parsial ini menghasilkan ion H 3 O +, sehingga larutan bersifat asam.

d)     Larutan garam Na2CO3 terdiri dari kation Na+ dan anion CO32-. Ion Na+ tidak dapat terhidrolisis karena berasal dari basa kuat NaOH sedangkan CO32- merupakan basa konjugasi dari asam lemah H2CO3 sehingga mengalami hidrolisis.
                               Na2CO3 (aq) → CO32-(aq) + 2Na + (aq)

                              Na + (aq) + H 2 O (l)              (Tidak ada reaksi)

                                     CO32- (aq) + H 2 O (l)        H2CO3 (aq) + OH - (aq)

Menurut konsep hidrolisis garam, Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat mengalami hidrolisis parsial dalam air. Hidrolisis menghasilkan OH-, maka larutan bersifat basa (pH > 7).

e)      Larutan garam NaCH3COO terdiri dari kation Na+ dan anion CH3COO-. Ion Na+ berasal dari basa kuat (NaOH), sehingga tidak bereaksi dengan air (tidak terhidrolisis). Ion CH3COO- merupakan basa konjugasi dari asam lemah CH3COOH, sehingga bereaksi dengan air (mengalami hidrolisis).
                              NaCH 3COO (aq) → CH 3COO - (aq) + Na +(aq)

                              Na + (aq) + H 2 O (l)                    (Tidak ada reaksi)

                              CH 3 COO - (aq) + H 2 O (l)          CH 3 COOH (aq) + OH - (aq)

NaCH3COO terhidrolisis sebagian (parsial) dan menghasilkan ion OH-, maka larutan bersifat basa. Pada percobaan yang peneliti lakukan, didapatkan hasil larutan garam NaCH3COO bersifat netral, kesalahan ini disebabkan kelalaian peneliti dalam menetesi larutan dan ketidaktelitian dalam melakukan percobaan.
f)       Larutan garam NH4CH3COO terdiri dari basa lemah NH3 dan asam lemah CH3COOH. NH4CH3COO terdiri dari kation NH4+ dan anion CH3COO- yang sama-sama merupakan elektrolit lemah dan dapat terhidrolisis.

NH4CH3COO(aq)         NH4+(aq) + CH3COO-(aq)

                                    NH4+(aq) + H2O(l)          NH3(aq) + H3O+(aq)

    CH3COO-(aq) + H2O(l)        CH3COOH(aq) + OH-(aq)

Sifat larutan garam ini bergantung pada Ka atau Kb, bila Ka>Kb maka bersifat asam,       bila Ka<Kb maka bersifat basa, dan bila Ka=Kb maka bersifat netral. Pada percobaan yang peneliti lakukan, larutan garam NH4CH3COO bersifat asam sehingga Ka>Kb.
  
                                                                                              
IX.             Kesimpulan     :

·          Garam dalam air akan terurai membentuk kation dan anion seperti dari asam basa semulanya.
·          Asam merupakan basa yang lemah akan terhidrolisis.
·          Jika terjadi hidrolisis sempurna, sifat tergantung pada harga Kb atau Ka.
·          pH kurang dari 7 mempunyai sifat asam.
·          pH lebih dari 7 mempunyai sifat basa.
·          Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian (parsial), sifat larutan garamnya asam, sehingga pH < 7.
·          Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat mengalami hidrolisis sebagian (parsial), sifat larutan garamnya basa, sehingga pH > 7.
·          Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis sempurna (total), sifat garamnya bergantung pada kekuatan relatif asam dan basa penyusunnya (Ka dan Kb)                                                        
Jika Ka < Kb (asam lebih lemah dari pada basa) maka anion akan terhidrolisis lebih banyak dan larutan bersifat basa dan pH >7 .                                                                                          jika Ka > Kb (asam lebih kuat dari pada basa) maka kation akan terhidrolisis lebih banyak dalam larutan bersifat asam dan pH < 7.                                                                               Jika Ka = Kb (asam sama lemahnya dengan basa) maka larutan bersifat netral  dan pH = 7.
·          Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat tidak terhidrolisis, maka sifat larutan garamnya netral, sehingga pH = 7.
·          Garam bersifat basa karena dalam reaksi menghasilkan ion OH-.
·          Garam bersifat asam karena dalam reaksi menghasilkan ion H+.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar